Foto di bawah adalah foto tahun 2004 ketika aku masih merokok.

Lalu per 14 Oktober 2005, aku memutuskan untuk berhenti merokok dan hal itu berlangsung hingga setidaknya saat ini, saat tulisan ini dipublikasikan, empat tahun sesudahnya.

Donny Merokok

Berikut adalah catatanku tentang bagaimana aku dulu bisa berhenti merokok.
Ini bukan tips yang bisa diterapkan, sekedar melawan lupa saja.
.

Memutuskan kapan berhenti merokok.
Aku menentukan dan memutuskan kapan waktu untuk berhenti merokok, dan sekonyong-konyong aku bisa berhenti tepat tanggal 14 Oktober 2005.

Diam-diam, tak perlu bilang-bilang.
Setelah “dipermalukan” karena gagal dalam uji coba berhenti merokok beberapa kali sebelumnya, pada akhirnya aku memilih untuk diam dan tidak perlu mempublikasikan bahwa aku sedang berhenti merokok. Banyak orang bilang justru yang terbaik adalah sebaliknya “memberitahukan ke orang-orang” sehingga ketika kita akan mulai lagi kita ingat akan seperti apa malunya diri karena orang-orang sudah tahu kita berhenti merokok. Tapi, menanggapi orang-orang yang berpikir seperti itu, kubalik pertanyaan tersebut dengan kenyataan bahwa kecenderungan itu justru akan melatih orang untuk merokok sembunyi-sembunyi dan ini sama saja mencetak pengecut-pengecut baru!

Berhenti, bukan mengurangi.
Beberapa saat sebelumnya, aku telah pernah mencoba berhenti merokok dengan jalan mengurangi secara bertahap.
Tapi kurasai cara berhenti dengan cara mengurangi adalah sesuatu yang basi!
Merokok adalah perkara candu, ketika kita mengurangi bertahap, bisa-bisa kita malah akhirnya menambahi lagi secara bertahap pula.
Ada proses yang justru menurutku lebih berat ketika kita harus mengurangi ketimbang berhenti seketika.
Jadi, sejak 14 Oktober 2005 lalu aku memilih untuk berhenti, bukan mulai mengurangi!

Melawan Gejala Perubahan Fisik dan Mental.
Sekitar seminggu sesudah berhenti merokok, badanku meriang… demam.
Gigiku berangsur-angsur juga terserang perasaan masam dan anehnya dalam tenggat waktu yang tidak lama sesudahnya, rasa itu diperburuk dengan sariawan yang akut dan radang tenggorokan hingga sekitar dua minggu lamanya.

Kebanyakan orang, ketika menghadapi demikian akan bersicepat kembali merokok dan mereka bilang, “Berhasil!”
Berhasil apa? Berhasil kembali jadi perokok! *sigh*
Tapi aku tidak! Aku memilih pergi ke dokter, memberitahu bahwa aku menderita sakit karena efek berhenti merokok, dan dokter lantas memberikan obat pereda rasa sakit tenggorokan, mulut serta penurun demam dan bukannya menganjurkan untuk merokok ataupun memberi rokok! :)

Itu baru fisik, secara mental, beberapa saat setelah berhenti merokok hingga berbulan-bulan berikutnya adalah periode yang menyiksa. Aku jadi mudah kehilangan konsentrasi dan cepat mengantuk. Tapi sejak kutahu bahwa mental adalah perkara sesuatu yang “tak kelihatan” maka iapun kulawan dengan sesuatu “yang tak kelihatan pula” yaitu doa dan motivasi.
Hanya satu kata untuk memeranginya: lawan!

Menghadapi Keadaan yang tak Menguntungkan
Maksudku, ketika menghadapi keadaan-keadaan yang bisa mentrigger untuk kembali merokok, aku menguatkan motivasi berlipat-lipat banyaknya. Sesudah makan, ketika buang air besar dan ketika menghadapi keadaan-keadaan yang membuat kita tertekan seperti misalnya menjelang presentasi ke kelian dan menghadapi deadline adalah saat-saat dimana aku tertantang untuk “kembali menjadi perokok” atau terus melewati itu semua secara lebih jantan tanpa asap rokok.

Satu catatan khusus, kondisi terberat yang pernah kualami adalah ketika menghadapi gempa bumi Mei 2006 di Yogyakarta. Kondisi tertekan, takut serta letih nyaris membuatku kembali menghisap rokok namun aku bersyukur karena motivasi yang kulipatgandakan akhirnya berbuah satu penolakan: lawan!

Mengapresiasi diri sendiri
Sebungkus rokok, dulu biasa dihargai Rp 8000,00. Dalam sehari aku biasa menghabiskan dua bungkus yang berarti Rp 16.000,00 dan jika ditotal dalam hitungan bulan, sebulannya aku menghabiskan sekitar 480 ribu rupiah hanya untuk rokok!
Ketika aku memutuskan untuk berhenti, beberapa waktu sesudahnya, dari hasil uang yang kukalkulasikan setara dengan uang yang biasa kupakai untuk membeli rokok, aku mengapresiasi diriku dengan membeli sebuah t-shirt dan celana jeans yang mahal sekalian.
Ketika kumemakainya, aku tahu bahwa apa yang kupakai adalah jerih pengorbananku dari pilihan untuk tidak merokok!

Cari info tentang buruknya efek merokok.
Pada akhirnya, aku mencari tahu efek-efek buruk tentang merokok justru setelah sekitar dua bulanan aku berhenti.
Hal ini memang kusengaja lebih karena aku tak mau berhenti merokok karena jerat-jerat semu yang menakut-nakuti diriku sendiri.
Aku tak mau berhenti merokok karena takut pada ajaran agama, takut pada gangguan kesehatan yang mungkin ditimbulkan ataupun hal-hal ketakutan lainnya. Aku hanya ingin berhenti merokok karena memang aku ingin berhenti merokok!
Efek-efek buruk yang kudapatkan dari internet itu pada akhirnya justru menguatkan motivasiku untuk berhenti.

In the end, merokok dan tidak merokok jatuh pada soalan pilihan hidup.
Aku, sejak empat tahun lalu dan hingga saat ini sedang memilih untuk tidak menjadi seorang perokok.
Secara sadar, karena kesulitannya, aku tak pernah berani bilang bahwa aku “bukan” perokok, tapi lebih pada kenyataan bahwa “aku adalah perokok namun sedang berhenti merokok setidaknya hingga saat ini”.